Sabtu, 22 Mei 2010

PROSES PEMBENTUKAN SISTEM SARAF PUSAT

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Setiap embryo mengalami embryogenesis dengan menempuh tahap-tahap embryogenesis yang dimiliki leluhur secara evolusi. karena orang secara evolusi dianggap menempuh hidup seperti Pisces, Amphibia, dan Reptilia yang dikenal sekarang, maka embryonya pun mengalami pertumbuhan seperti embryo Pisces, Amphibia, dan Reptilia dulu.
Pada masa dalam rahim, embryo bentuk primitif tumbuh menjadi bentuk definitif, dan memiliki bentuk yang spesifik. Pada periode ini embryo akan memiliki bentuk yang khusus bagi setiap spesies. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya dalam rahim akan terbentuk bagian-bagian tubuh yang lebih khusus dan memilki fungsi masing-masing yang berguna untuk kehidupannya mendatang. Pembentukan organ-organ tersebut dikenal dengan organogenesis, meliputi pembentukan anggota gerak, alat indera, system saraf pusat dan lain-lain.

2. RUMUSAN MASALAH
Proses Pembentukan sistem sarat pusat
Apa pengertian dari sistem saraf pusat?
Dimanakah tempat terbentuknya sistem saraf pusat?
Kapan terbentuknya sistem saraf pusat?
Bagaimana proses pembentukan sistem saraf pusat?

2. Proses Pembentukan kulit
a. Apa pengertian kulit?
b. Dimanakah tempat terbentuknya kulit?
c. Kapan terbentuknya kulit?
d. Bagaimana proses pembentukan kulit?

3. Proses Pembentukan mata
a. Apa pengertian mata?
b. Dimanakah tempat terbentuknya mata?
c. Kapan terbentuknya mata?
d. Bagaimana proses pembentukan mata

3. TUJUAN PENULISAN
1. Proses Pembentukan sistem sarat pusat.
a. Mengetahui definisi sistem saraf pusat.
b. Mengetahui tempat terbentuknya sistem saraf pusat.
c. Mengetahui waktu terbentuknya sistem saraf pusat.
d. Mengetahui proses pembentukan sistem saraf pusat.

2. Proses Pembentukan kulit
a. Mengetahui definisi kulit.
b. Mengetahui tempat terbentuknya kulit.
c. Mengetahui waktu terbentuknya kulit.
d. Mengetahui proses pembentukan kulit.

3. Proses Pembentukan mata
b. Mengetahui definisi mata.
c. Mengetahui tempat terbentuknya mata.
d. Mengetahui waktu terbentuknya mata.
e. Mengetahui proses pembentukan mata.

3. METODE PENULISAN
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu metode kepustakaan.



BAB II
PROSES PEMBENTUKAN SISTEM SARAF PUSAT, KULIT DAN MATA

II. 1. PROSES PEMBENTUKAN SISTEM SARAF PUSAT
II. 1.1 SISTEM SARAF PUSAT
Sistem saraf pusat merupakan sistem yang dibentuk oleh jutaan sel saraf dan sel glia beserta pembuluh darah dan sedikit jaringan ikat. Sistem saraf pusat meliputi otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang (Medula spinalis). Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang sangat penting maka perlu perlindungan. Selain tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, otak juga dilindungi 3 lapisan selaput meninges.
Sistem saraf pusat berfungsi untuk mengatur pengendalian tertinggi dari kegiatan mental dan perilaku khas pada manusia yang dilakukan oleh belahan otak, khususnya korteks serebri.
Susunan saraf mula-mula terdiri dari 3 bagian :
1. Lapisan neural
2. Jambul neural
3. Plakode indera
Lapisan neural akan menjadi encephalon (otak) di anterior dan medulla spinalis di posterior. Otak merupakan ujung atas sistem saraf pusat yang membesar dan terletak dalam tengkorak.
Encephalon berkembang menjadi 3 bagian :
• Otak depan (prosensefalon)
• Otak tengah (mesensefalon)
• Otak dalam (rombensefalon)
Pada masa pembentukan sistem saraf pusat, encephalon mengalami diferensiasi lanjut. Otak depan (prosensefalon) akan membagi menjadi telencephalon (ujung otak) dan diencephalon (jembatan otak). Telencephalon membentuk sepasang vesikula yang akan menjadi lobi. Dari diencephalon terjadi beberapa evaginasi:
1. epiphysis
2. paraphysis
3. vesiculae opticus
4. infundibulum
Atap mesencephalon membuat sepasang tonjolan-tonjolan yang pada pisces dan amphibi disebut corpora bigemina; pada reptilia, aves dan mammalia terdiri dari 2 pasang, disebut corpora quadrugemina. Rombencephalon membagi menjadi metencephalon dan myelencephalon (otak sumsum).






















Gambar Pertumbuhan Otak

Jambul neural yang menghasilkan ganglia nervi cranialis dan spinalis. Plakode indera adalah suatu jejeran epidermis yang menebal di daerah lateral caput, yang terdiri dari :
1) Placode nasus yang terletak di samping ventro anterior caput
2) Placode lens, berhubungan dengan tonjolan optic (optic vesicle) di daerah prosencephalon yang bakal jadi diencephalon.
3) Placode acoustic terletak di dorso lateral tentang bagian tengah rhombencephalon.
4) Placode calyculi gustatorii yang terletak di lidah, pharyx, palatum molle atau ada juga di permukaan sebelah luar caput.
Neuron-neuron nervus centrale (saraf pusat) berasal dari neuroblast-neuroblast primitif yang datang dari sel-sel lapisan terdalam lapisan neural.

Sistem saraf pusat (SSP) tampak pada permulaan minggu ke- 3 sebagai lempeng penebalan ektoderm yang terbentuk seperti sandal yang disebut lempeng saraf. Pertumbuhan dan perkembangan otak dimulai dengan pembentukan lempeng saraf (neural plate) pada masa embrio, yakni sekitar hari ke-16. Kemudian menggulung membentuk tabung saraf (neural tube) pada hari ke-22. Pada minggu ke 5 mulailah terlihat cikal bakal otak besar di ujung tabung saraf. Selanjutnya terbentuklah batang otak, serebelum (otak kecil), dan bagian-bagian lainnya.
Perkembangan otak sangat kompleks dan memerlukan beberapa seri proses perkembangan, yang terjadi atas penambahan (poliferasi) sel, perpindahan (migrasi) sel, perubahan (diferensiasi) sel, pembentukan jalinan saraf satu dengan yang lainnya (sinaps, dan pembentukan selubung saraf (mielinasi). Sel saraf (neuron) pada permulaan bentuknya masih sederhana, mengalami pembelahan menjadi banyak, dan proses ini disebut proliferasi. Proses proliferasi berlangsung selama kehamilan 4-24 minggu, dan selesai pada waktu bayi lahir. Setelah proses proliferasi, sel saraf akan migrasi ke tempat yang semestinya. Proses migrasi berlangsung sejak kehamilan kira-kira 16 minggu sampai akhir bulan ke-6 masa gestasi. Proses migrasi ini terjadi secara bergelombang, yaitu sel saraf yang bermigarsi awal akan menempati lapisan dalam dan yang bermigrasi kemudian menempati lapisan luar korteks serebri.
Pada akhir bulan ke-6, lempeng korteks ini sudah memiliki komponen sel neuron yang lengkap dan sudah tampak adanya diferensiasi menjadi 6 lapis seperti orang dewasa. Di tempat yang semestinya, sel saraf mengalami proses diferensiasi (perubahan bentuk, komposisi, dan fungsi). Sel saraf berubah menjadi sel neuron dengan cabang-cabangnya dan terbentuk pula sel penunjang ( sel glia). Fungsi sel inilah yang mengatur kehidupan kita sehari-hari. Ada yang mengatakan penambahan jumlah sel saraf telah selesai pada saat kelahiran. setelah lahir hanya terjadi pematangan fungsi sel, tetapi selubung saraf atau myelin yang disebut mielinisasi masih berkembang. Tetapi, setelah lahir terjadi penambahan volume dan berat otak dan bayi tampak lebih pintar. Hal ini karena adanya pertumbuhan serabut saraf, adanya peningkatan jumlah sel glia yang luar biasa dan proses mielinisasi akibat proses stimulasi yang didapat saat lahir.

II. 2. PROSES PEMBENTUKAN KULIT
II. 2.1 KULIT
Kulit merupakan pembungkus dan pelindung tubuh yang tahan air, mengandung ujung-ujung saraf, dan membantu pengaturan suhu tubuh. Kulit manusia terdiri atas epidermis dan dermis. Kulit berfungsi sebagai alat ekskresi karena adanya kelenjar keringat (kelenjar sudorifera) yang terletak di lapisan dermis. Kulit terdiri atas jaringan subkutan (fasia superfisial) yaitu suatu lapisan areolar berlemak yang menutupi fasia fibrosa yang lebih padat.
Kulit terdiri dari 2 lapisan:
• Epidermis, lapisan atas terdiri dari susunan epitel yang berasal dari ektoderm.
• Dermis (korium), lapisan bawah terdiri dari jaringan ikat yang sebagian besar berasal dari mesoderm.

1. Epidermis
Pada mulanya, mudigah dibungkus oleh selapis sel ectoderm (Gambar A). Kemudian pada permulaan bulan ke-2, epitel ini membelah dan meletakkan selapis sel gepeng, yaitu periderm dan epitrikium, pada permukaanya (Gambar B). dengan proliferasi selanjutnya sel-sel di lapisan dasar, terbentuklah lapisan ketiga yang terletak di tengah (Gambar C). Akhirnya pada akhir bulan ke-4, epidermis memperoleh susunan tetapnya dan dapat dikenali empat lapisan (Gambar D) :
1) Stratum Germinatif (Malphigi)
Bertanggung jawab atas produksi sel-sel baru. Lapisan ini merupakan lapisan yang paling bawah pada epidermis. Sel-sel lapisan germinatif merupakan sel yang aktif membagi. Hasil pembagian sel-sel germinatif ini akan tersesar keluar ke arah permukaan di atas lapisan germinatif. Lapisan yang keluar ini merupakan lapisan granul.
2) Stratum Granulare
Lapisan ini berada di atas lapisan germinatif. Sel-sel lapisan germinatif mempunyai banyak granul. Granul ini terdiri daripada keratin, keratin merupakan bahan keras berprotein.
3) Stratum Spinosum
Lapisan yang terdiri atas sel-sel besar yang bersisi banyak yang mengandung tonofibril-tonofibril halus.
4) Lapisan Tanduk
Lapisan ini berfungsi untuk membentuk penutup luar yaitu untuk melindungi kulit. Lapisan ini dibentuk olwh beberapa lapis sel-sel mati yang sangat rapat dan penuh dengan keratin.

Sel-sel periderm biasanya dibuang selama trimester kedua masa janin dan dapat ditemukan di dalam cairan amnion. Selama 3 bulan pertama perkembangan, epidermis disusupi oleh sel-sel yang berasal dari crista neuralis. Sel-sel ini membentuk pigmen melanin yang dapat dipindahkan ke sel-sel epidermis lain melalui cabang-cabang dendrite. Sel-sel ini dikenal sebagai melanosit, dan setelah lahir menyebabkan terjadinya pigmentasi kulit.

2. Dermis
Dermis, terletak di bawah epidermis, mengandung papiler permukaan yang terdiri dari kolagen yang longgar dan rapuh, serat-serat elastik, bercampur dengan fibroblast, sel mast, dan makrofag. Lapisan dermis merupakan lapisan yang mempunyai bekalan darah atau kapilari darah. Lapisan ini juga menempatkan reseptor-reseptor tertentu.
Dermis berasal dari mesenkim. selama bulan ke-3 dan ke-4, korium membentuk susunan-susunan papilia yang tidak teratur (papillae dermis) yang menonjol ke atas kea rah epidermis. Papilia ini biasanya mengandung sebuah kapiler kecil atau sebuah organ akhir saraf sensorik. Lapisan dermis yang lebih dalam (subkorium) mengandung jaringan lemak dalam jumlah yang besar.
Pada waktu lahir, kulit dilapisi oleh pasta berwarna keputih-putihan, (vernix caseosa) yang dibentuk oleh secret kelenjar lemak dan sel-sel epidermis yang bergenerasi serta rambut. Pasta ini melindungi kulit terhadap efek maserasi cairan amnion.

Proses terbentuknya kulit :
Lapisan ektoderm mula-mula terdiri dari selapis sel, yaitu epidermis. Ini tumbuh menjadi 2 lapis sel: Periderm dan stratum germinativum.
Derivat epidermis yang bertekstur tanduk tumbuh berupa papila yang menjorok ke dermis. Warna kulit berasal dari chromatophore yang dihasilkan dari neural crest (jambul neural).






























Gambar Pertumbuhan kulit
Keterangan :

A. ep : epidermis
sd : sel-sel dasar
dt :dermatome
B. sg : stratum germinativum
de : dermis

C. sc : stratum corneum
pe : periderm
jn : jambul neural
mt : myotome
st : sclerotome

II. 3 PROSES PEMBENTUKAN MATA
II. 3.1 MATA
Mata merupakan indera penglihatan. Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya.
Dinding bola mata terdiri dari 3 lapisan :
w Selaput keras (sklera) merupakan lapisan terluar, berwarna putih dan berfungsi sebagai pelindung.
w Selaput pembuluh (koroid) merupakan lapisan tengah, tersusun dari jaringan ikat yang kaya dengan pembuluh darah dan pigmen.
w Selaput jala (retina) merupakan lapisan dalam yang sangat halus dan peka terhadap cahaya.

II. 3.2 PROSES PEMBENTUKAN MATA
Perkembangan mata mulai tampak pada mudigah 22 hari sebagai sepasang lekukan dangkal pada sisi kanan dan kiri otak depan (Gambar 18.1 A). Dengan menutupnya tabung saraf, lekukan-lekukan ini membentuk kantong-kantong keluar pada otak depan yaitu gelembung mata. Gelembung ini selanjutnya menempel pada ectoderm permukaan dan menginduksi perubahan ectoderm yang diperlukan untuk pembentukan lensa (Gambar 18.1 B). Setelah itu, gelembung mata mulai tumbuh melakukan invaginasi dan membentuk piala mata yang berdinding rangkap (Gambar 18.1 C) dan (Gambar 18.2 A). Lapisan dalam dan luar piala mata ini mula-mula dipisahkan oleh suatu rongga, yaitu ruangan intraretina (Gambar 18.2 B dan 18.4 A), tetapi segera rongga ini menghilang dan kemudian kedua lapisan tersebut saling berlekatan satu sama lain (Gambar 18.4). Invaginasi tidak hanya terbatas pada bagian tengah piala, tetapi juga meliputi sebagian permukaan inferiornya (Gambar 18.2A) yang membentuk fissura koroidea. Pada minggu ke-7, bibir-bibir fissura koroidea bersatu, dan mulut piala mata kemudian menjadi lubang bulat yang kelak menjadi pupil.
Sementara peristiwa ini berlangsung, sel-sel ectoderm permukaan yang semula menempel pada gelembung mata, mulai memanjang dan membentuk plakode lensa (Gambar 18.1 D). Plakode ini selanjutnya melakukan invaginasi dan berkembang menjadi gelembung lensa. Pada minggu ke-5, gelembung lensa terlepas dari ectoderm permukaan dan selanjutnya terletak di dalam mulut piala mata (Gambar 18.2 C, 18.3 dan 18.4).













Gambar. 18.1
Keterangan :
A. Potongan melintang melalui otak depan pada mudigah 22 hari (kurang lebih 14 somit), yang memperhatikan lekukan mata.
B. Potongan melintang melalui otak depan pada mudigah 4 minggu, yang memperhatikan gelembung-gelembung mata yang menempel pada ectoderm permukaan.
C. Potongan melintang melalui otak depan pada mudigah 5 minggu, yang memperlihatkan invaginasi gelembung mata dan lempeng lensa



















Gambar. 18.2
Keterangan :
A. Pandangan ventrolateral piala mata dan tangkai mata pada mudigah 6 minggu. fissura koroidea yang terletak pada permukaan bawah tangkai mata secara berangusr-angsur mengecil.
B. Potongan melintang melalui tangkai mata sebagaimana yang diperlihatkan pada A, yang memperlihatkan arteria hyaloidea di dalam fissura koroidea.
C. Potongan melalui gelembung lensa, piala mata, tangkai mata pada bidang fissura koroidea.












Gambar. 18.3. Potongan melalui mata pada mudigah 7 minggu. Primordium mata terbenam seluruhnya di dalam mesenkim. Serabut-serabut saraf berkumpul menuju kea rah nervus opticus.












Gambar. 18.4
Keterangan :
A. Mudigah manusia berumur 6 minggu
L : lensa
B. Mudigah manusia berumur 7minggu
Lf : serabut-serabut lensa
N : Lapisan saraf
: lapisan pigmen













BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1. Proses Pembentukan sistem sarat pusat.
a. Sistem saraf pusat merupakan sistem yang dibentuk oleh jutaan sel saraf dan sel glia beserta pembuluh darah dan sedikit jaringan ikat.
b. Sistem saraf pusat meliputi otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang.
c. Sistem saraf pusat (SSP) tampak pada permulaan minggu ke- 3 sebagai lempeng penebalan ektoderm yang terbentuk seperti sandal yang disebut lempeng saraf.
d. Pada masa pembentukan sistem saraf pusat, encephalon mengalami diferensiasi lanjut. Perkembangannya sangat kompleks dan memerlukan beberapa seri proses perkembangan, yang terjadi atas penambahan (poliferasi) sel, perpindahan (migrasi) sel, perubahan (diferensiasi) sel, pembentukan jalinan saraf satu dengan yang lainnya (sinaps, dan pembentukan selubung saraf (mielinasi).

2. Proses Pembentukan kulit
a. Kulit merupakan pembungkus dan pelindung tubuh yang tahan air, mengandung ujung-ujung saraf, dan membantu pengaturan suhu tubuh.
b. Tempat terbentuknya kulit pada lapisan ectoderm.
c. Proses pembentukan kulit dimulai pada saat awal kehamilan, berlanjut pada awal bulan ke-2.
d. Proses pembentukan kulit:
Lapisan ektoderm mula-mula terdiri dari selapis sel, yaitu epidermis. Ini tumbuh menjadi 2 lapis sel: Periderm dan stratum germinativum.
Derivat epidermis yang bertekstur tanduk tumbuh berupa papila yang menjorok ke dermis. Warna kulit berasal dari chromatophore yang dihasilkan dari neural crest (jambul neural).

3. Proses Pembentukan mata
a. Mata merupakan indera penglihatan. Mata merupakan organ indera yang dapat mendeteksi cahaya.
b. Tempat terbentuknya mata pada ectoderm permukaan yang tepatnya terletak di dalam mulut piala mata.
c. Perkembangan mata mulai tampak pada mudigah 22 hari sebagai sepasang lekukan dangkal pada sisi kanan dan kiri otak depan (Mengetahui proses pembentukan mata.
d. Proses pembentukan mata diawali dengan menutupnya tabung saraf, dan terbentuknya kantong-kantong keluar pada otak depan pada lekukan dangkal pada sisi kanan dan kiri otak depan yaitu gelembung mata.















DAFTAR PUSTAKA
Anonim 2009. http://id.wikipedia.org/wiki/ Sistem_saraf_pusat. Diakses tanggal 25 Februari 2009.

Anonim 2009. http://us1.harunyahya.com/Detail/T/N703OFTA187/productId/ 4505/KEAJAIBAN_DALAM_RAHIM_IBU. Diakses tanggal 25 Februari 2009.

Anonim 2009. http://www.rileks.com/lifestyle/act=detail&artid31102006115166. Diakses tanggal 25 Februari 2009.

Kimbal, John W. 2000. Biologi Jilid II Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta.

Sadler, T.W. 2000. Embriologi Kedokteran Langman Edisi ke-7. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.

Yatim, Wildan. 1982. Reproduksi dan Embryologi. Tarsito. Bandung.


.

Selasa, 02 Maret 2010

MAKALAH BIOKIMIA KARBOHIDRAT

BAB I
PENDAHULUAN

A. latar belakang
Secara biokimia karbohidrat adalah polihidroksil-aldehida atau polihidroksil-keton, atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini bila dihidrolisis. Karbohidrat mengandung gugus fungsi karbonil (sebagai aldehida atau keton) dan banyak gugus hidroksil. Pada awalnya, istilah karbohidrat digunakan untuk golongan senyawa yang mempunyai rumus (CH2O)n, yaitu senyawa-senyawa yang n atom karbonnya tampak terhidrasi oleh n molekul air.[3] Namun demikian, terdapat pula karbohidrat yang tidak memiliki rumus demikian dan ada pula yang mengandung nitrogen, fosforus, atau sulfur. Karbohidrat menyediakan kebutuhan dasar yang diperlukan tubuh makhluk hidup. Monosakarida, khususnya glukosa, merupakan nutrien utama sel. Misalnya, pada vertebrata, glukosa mengalir dalam aliran darah sehingga tersedia bagi seluruh sel tubuh. Sel-sel tubuh tersebut menyerap glukosa dan mengambil tenaga yang tersimpan di dalam molekul tersebut pada proses respirasi selular untuk menjalankan sel-sel tubuh. Selain itu, kerangka karbon monosakarida juga berfungsi sebagai bahan baku untuk sintesis jenis molekul organik kecil lainnya, termasuk asam amino dan asam lemak. Sebagai nutrisi untuk manusia, 1 gram karbohidrat memiliki nilai energi 4 Kalori. Dalam menu makanan orang Asia Tenggara termasuk Indonesia, umumnya kandungan karbohidrat cukup tinggi, yaitu antara 70–80%. Bahan makanan sumber karbohidrat ini misalnya padi-padian atau serealia (gandum dan beras), umbi-umbian (kentang, singkong, ubi jalar), dan gula.



B. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini ialah :
1. Memenuhi tugas matakuliah biokimia
2. Mengetahui pengertian karbohidrat 3. Mengetahui kaitan antara Metabolisme Karbohidrat dan Diabetes Mellitus
C. Batasan Masalah
Komplesitas masalah karbohidrat akan melelahkan dan menyita banyak waktu, bila disaji secara menyeluruh. Oleh karena itu penulis akan membatasi pembahasan karbohidrat yaitu berupa pengertian karbohidrat, metabolismenya serta keterkaitan antara metabolism karbohidrat dan diabetes mellitus
D. Metode Penyusunan
Metode penyusunan dalam pembuatan makalah ini yaitu berusaha mengumpulkan informasi dari refrensi khususnya berasal dari media web ( internet ) dan dari buku.










BAB II
ISI
A.Pengertian Karbohidrat
Karbohidrat adalah senyawa organik terdiri dari unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. contoh; glukosa C6H12O6, sukrosa C12H22O11, sellulosa (C6H10O5)n. Rumus umum karbohidrat Cn(H2O)m. Karbohidrat juga dapat diartikan polihidroksi aldehid (aldose) atau polihidroksi keton (ketose) dan turunannya atau senyawa yang bila dihidrolisa akan menghasilkan salah satu atau kedua komponen diatas. Karbohidrat berasal dari bahasa Jerman, yaitu “Kohlenhydrate” dan dari bahasa Perancis, yaitu “Hydrate de Carbon”. Penamaan ini didasarkan atas komposisi unsur karbon yang mengikat hidrogen dan oksigen dalam perbandingan yang selalu sama seperti pada molekul air yaitu perbandingan 2 : 1. Karena komposisi yang demikian, senyawa ini pernah disangka sebagai hidrat karbon, tetapi sejak 1880, senyawa tersebut bukan hidrat dari karbon. Nama lain dari karbohidrat adalah sakarida, berasal dari bahasa Arab "sakkar" artinya gula. Karbohidrat sederhana mempunyai rasa manis sehingga dikaitkan dengan gula. Melihat struktur molekulnya, karbohidrat lebih tepat didefinisikan sebagai suatu polihidroksialdehid atau polihidroksiketon. Contoh glukosa; adalah suatu polihidroksi aldehid karena mempunyai satu gugus aldehid da 5 gugus hidroksil (OH). Karbohidrat memegang peranan penting dalam sistem biologi khususnya dalam respirasi. Karbohidrat dihasilkan oleh proses fotosintesa di dalam tanaman-tanaman berdaun hijau. Karbohidrat dapat dioksida menjadi energi, misalnya glukosa dalam sel jaringan manusia dan binatang. Fermentasi karbohidrat oleh kamir atau mikroba lain dapat menghasilkan CO2, alkohol, asam organik dan zat-zat organik lainnya. Karbohidrat merupakan sumber energi bagi aktivitas kehidupan manusia disamping protein dan lemak. Membekalkan tenaga bagi aktiviti harian seperti gerakkan, pertumbuhan dan lain-lain aktiviti sel di dalam badan.
Membekalkan tenaga haba untuk memastikan suhu badan manusia kekal pada 36.9° C.Sebagai makanan simpanan dalam haiwan dan tumbuhan Di Indonesia kira-kira 80 – 90% kebutuhan energi berasal dari karbohidrat, karena bahan makanan pokok yang biasa dimakan sebagian besar mengandung komponen karbohidrat seperti beras, jagung, sagu dan lain-lain. Sedangkan di Amerika sumber energi berasal dari karbohidrat 46%, lemak 42% dan protein 12%.
Dalam bahan-bahan pangan nabati, karbohidrat merupakan komponen yang relatif tinggi kadarnya. Beberapa zat yang termasuk golongan karbohidrat adalah gula, dekstrin, pati, selulosa, hemiselulosa, pektin, gum dan beberapa karbohidrat yang lain. Unsur-unsur yang membentuk karbohidrat hanya terdiri dari karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O), kadang-kadang juga nitrogen (N). Pentosa dan hektosa merupakan contoh karbohidrat sederhana, misalnya arabinosa, glukosa, fruktosa, galaktosa dan sebagainya.

B. Kaitan antara Metabolisme Karbohidrat dan Diabetes Mellitus
Metabolisme karbohidrat dan diabetes mellitus adalah dua mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Keterkaitan antara metabolisme karbohidrat dan diabetes mellitus dijelaskan oleh keberadaan hormon insulin. Diabetes mellitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan menifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat. Jika telah berkembang penuh secara klinis, maka diabetes mellitus ditandai dengan hiperglikemia puasa dan post prandial, aterosklerotik dan penyakit vascular microangiophaty dan neurophaty. Manifestasi klinis hiperglikemia biasanya telah bertahun-tahun mendahului timbulnya kelainan klinis dari penyakit vascularnya. Pasien dengan kelainan toleransi glukosa ringan ( gangguan glukosa puasa dan gangguan toleransi glukosa ) dapat tetap berisiko mengalami komplikasi diabetes mellitus.
Diabetes mellitus merupakan penyakit endokrin yang paling lazim. Frekuensi sesungguhnya diperoleh karena perbedaan standar diagnosis tetapi mungkin antara 1-2% jika hiperglikemia puasa merupakan criteria diagnosis. Penyakit ini ditandai oleh komplikasi metabolic dan komplikasi jangka panjang yang melibatkan mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah.
Penderita diabetes mellitus mengalami kerusakan dalam produksi maupun sistem kerja insulin, sedangkan in sangat dibutuhkan dalam melakukan regulasi metabolisme karbohidrat. Akibatnya, penderita diabetes mellitus akan mengalami gangguan pada metabolisme karbohidrat. Tubuh manusia membutuhkan energi agar dapat berfungsi dengan baik. Energi tersebut diperoleh dari hasil pengolahan makanan melalui proses pencernaan di usus. Di dalam saluran pencernaan itu, makanan dipecah menjadi bahan dasar dari makanan tersebut. Karbohidrat menjadi glukosa, protein menjadi menjadi asam amino, dan lemak menjadi asam lemak. Ketiga zat makanan tersebut akan diserap oleh usus kemudian masuk ke dalam pembuluh darah dan akan diedarkan ke seluruh tubuh untuk dipergunakan sebagai bahan bakar. Dalam proses metabolisme, insulin memegang peranan sangat penting yaitu memasukkan glukosa ke dalam sel, untuk selanjutnya digunakan sebagai bahan baker. Pengeluaran insulin tergantung pada kadar glukosa dalam darah. Kadar glukosa darah sebesar > 70 mg/dl akan menstimulasi sintesa insulin. Insulin yang diterima oleh reseptor pada sel target, akan mengaktivasi tyrosin kinase dimana akan terjadi aktivasi sintesa protein, glikogen, lipogenesis dan meningkatkan transport glukosa ke dalam otot skelet dan jaringan adipose dengan bantuan transporter glukosa (GLUT 4).
Insulin berupa polipeptida yang dihasilkan oleh sel-sel β pankreas. Insulin terdiri atas dua rantai polipeptida. Struktu insulin manusia dan beberapa spesies mamalia kini telah diketahui. Insulin manusia terdiri atas 21 residu asam amino pada rantai A dan 30 residu pada rantai B. Kedua rantai ini dihubungkan oleh adanya dua buah rantai disulfida (Granner, 2003). Insulin disekresi sebagai respon atsa meningkatnya konsentrasi glukosa dalam plasma darah. Konsentrasi ambang untuk sekresi tersebut adalah kadar glukosa pada saat puasa yaitu antara 80-100 mg/dL. Respon maksimal diperoleh pada kadar glukosa yang berkisar dar 300-500 mg/dL. Insulin yang disekresikan dialirkan melalui aliran darah ke seluruh tubuh. Umur insulin dalam aliran darah sangat cepat. waktu paruhnya kurang dari 3-5 menit.
Sel-sel tubuh menangkap insulin pada suatu reseptor glikoprotein spesifik yang terdapat pada membran sel. Reseptor tersebut berupa heterodimer yang terdiri atas subunit α dan subunit β dengan konfigurasi α2β2. Subunit α berada pada permukaan luar membran sel dan berfungsi mengikat insulin. Subunit β berupa protein transmembran yang melaksanakan fungsi tranduksi sinyal. Bagian sitoplasma subunit β mempunyai aktivitas tirosin kinase dan tapak autofosforilasi (King, 2007).
Terikatnya insulin subunit α menyebabkan subunit β mengalami autofosforilasi pada residu tirosin. Reseptor yang terfosforilasi akan mengalami perubahan bentuk, membentuk agregat, internalisasi dan mnghasilkan lebih dari satu sinyal. Dalam kondisi dengan kadar insuli tinggi, misalnya pada obesitas ataupun akromegali, jumlah reseptor insulin berkurang dan terjadi resistansi terhadap insulin. Resistansi ini diakibatkan terjadinya regulasi ke bawah. Reseptor insulin mengalami endositosis ke dalam vesikel berbalut klatrin.
Insulin mengatur metabolisme glukosa dengan memfosforilasi substrat reseptor insulin (IRS) melalui aktivitas tirosin kinase subunit β pada reseptor insulin. IRS terfosforilasi memicu serangkaian rekasi kaskade yang efek nettonya adalah mengurangi kadar glukosa dalam darah. Ada beberapa cara insulin bekerja yaitu (Granner, 2003).
Pengaturan metabolisme glukosa oleh insulin melalui berbagai mekanisme kompleks yang efek nettonya adalah peningkatan kadar glukosa dalam darah. Oleh karena itu, penderita diabetes mellitus yang jumlah insulinnya tidak mencukupi atau bekerja tidak efektif akan mengalami hiperglikemia.
C. Ada 3 mekanisme yang terlibat yaitu :
a. Meningkatkan difusi glukosa ke dalam sel
Pengangkutan glukosa ke dalam sel melalui proses difusi dengan bantuan protein pembawa. Protein ini telah diidentifikasi melalui teknik kloning molekular. Ada 5 jenis protein pembawa tersebut yaitu GLUT1, GLUT2, GLUT3, GLUT4 dan GLUT 5. GLUT1 merupakan pengangkut glukosa yang ada pada otak, ginjal, kolon dan eritrosit. GLUT2 terdapat pada sel hati, pankreas, usus halus dan ginjal. GLUT3 berfungsi pada sel otak, ginjal dan plasenta. GLUT4 terletak di jaringan adiposa, otot jantung dan otot skeletal. GLUT5 bertanggung jawab terhadap absorpsi glukosa dari usus halus. Insulin meningkatkan secara signifikan jumlah protein pembawa terutama GLUT4. Sinyal yang ditransmisikan oleh insulin menarik pengankut glukosa ke tempat yang aktif pada membran plasma (Gambar 2.6). Translokasi protein pengangkut ini bergantung pada suhu dan energi serta tidak bergantung pada sintesis protein. Efek ini tidak terjadi pada hati.
b. Peningkatan aktivitas enzim
Pada orang yang normal, sekitar separuh dari glukosa yang dimakan diubah menjadi energi lewat glikolisis dan separuh lagi disimpan sebagai lemak atau glikogen. Glikolisis akan menurun dalam keadaan tanpa insulin dan proses glikogenesis ataupun lipogenesis akan terhalang.
Hormon insulin meningkatkan glikolisis sel-sel hati dengan cara meningkatkan aktivitas enzim-enzim yang berperan. termasuk glukokinase, fosfofruktokinase dan piruvat kinase. Bertambahnya glikolisis akan meningkatkan penggunaan glukosa dan dengan demikian secara tidak langsung menurunkan pelepasan glukosa ke plasma darah. Insulin juga menurunkan aktivitas glukosa-6-fosfatase yaitu enzim yang ditemukan di hati dan berfungsi mengubah glukosa menjadi glukosa 6-fosfat. Penumpukan glukosa 6-fosfat dalam sel mengakibatkan retensi glukosa yang mengarah pada diabetes mellitus tipe 2.
Banyak efek metabolik insulin, khususnya yang terjadi dengan cepat dilakukan dengan mempengaruhi reaksi fosforilasi dan dfosforilasi protein yang selanjutnya mengubah aktivitas enzimatik enzim tersebut. Enzim-enzim yang dipengaruhi dengan cara ini dikemukakan pada tabel 2.1. Kerja insulin dilaksanakan dengan mengaktifkan protein kinase, menghambat protein kinase lain atau meransang aktivitas fosfoprotein fosfatase. Defosforilasi meningkatkan aktivitas sejumlah enzim penting. Modifikasi kovalen ini memungkinkan terjadinya perubahan yang hampir seketika pada aktivitas enzim tersebut.
Mekanisme defosforilasi enzim dilakukan melalui reaksi kaskade yang dipicu oleh fosforilasi substrat reseptor insulin. Sebagai contoh adalah pengeruh insulin pada enzim glikogen sintase dan glikogen fosforilase (King, 2007).
c. Menghambat kerja cAMP
Dalam menghambat atau meransang kerja suatu enzim, insulin memainkan peran ganda. Selain menghambat secara langsung, insulin juga mengurangi terbentuknya cAMP yang memiliki sifat antagonis terhadap insulin. Insulin meransang terbentuknya fosfodiesterase-cAMP. Dengan demikian insulin mengurangi kadar cAMP dalam darah.
d. Mempengaruhi ekspresi gen
Kerja insulin yang dibicarakan sebelumnya semuanya terjadi pada tingkat membran plasma atau di dalam sitoplasma. Di samping itu, insulin mempengaruhi berbagai proses spesifik dalam nukleolus. Enzim fosfoenolpiruvat karboksikinase mengkatalisis tahap yang membatasi kecepatan reaksi dalam glukoneogenesis. Sintesis enzim tersebut dikurangi oleh insulin dengan demikian glukoneogenesis akan menurun. Hasil penelitian menunjukkan transkripsi enzim ini menurun dalam beberapa menit setelah penambahan insulin. Penurunan transkripsi tersebut menyebabkan terjadinya penurunan laju sintesis enzim ini.
Penderita diabetes mellitus memiliki jumlah protein pembawa yang sangat rendah, terutama pada otot jantung, otot rangka dan jaringan adiposa karena insulin yang mentranslokasikannya ke situs aktif tidak tersedia. Kondisi ini diperparah pula dengan peranan insulin pada pengaturan metabolisme glukosa. Glikolisis dan glikogenesis akan terhambat akan enzim yang berperan dalam kedua jalur tersebut diinaktivasi tanpa kehadiran insulin. Sedangkan tanpa insulin, jalur metabolisme yang mengarah pada pembentukan glukosa diransang terutama oleh glukagon dan epinefrin yang bekerja melalui cAMP yang memiliki sifat antagonis terhadap insulin. Oleh karena itu, penderita diabetes mellitus baik tipe I atau tipe II kurang dapat menggunakan glukosa yang diperolehnya melalui makanan. Glukosa akan terakumulasi dalam plasma darah (hiperglikemia).
Penderita dengan kadar gula yang sangat tinggi maka gula tersebut akan dikeluarkan melalui urine. Gula disaring oleh glomerolus ginjal secara terus menerus, tetapi kemudian akan dikembalikan ke dalam sistem aliran darah melalui sistem reabsorpsi tubulus ginjal. Kapasitas ginjal mereabsorpsi glukosa terbatas pada laju 350 mg/menit. Ketika kadar glukosa amat tinggi, filtrat glomerolus mengandung glukosa di atas batas ambang untuk direabsorpsi. Akibatnya kelebihan glukosa tersebut dikeluarkan melalui urine. Gejala ini disebut glikosuria, yang mrupakan indikasi lain dari penyakit diabetes mellitus. Glikosuria ini megakibatkan kehilangan kalori yang sangat besar (Mayes, 2003).
Kadar glukosa yang amat tinggi pada liran darah maupun pada ginjal, mengubah tekanan osmotik tubuh. Secara otomatis, tubuh akan mengadakan osmosis untuk menyeimbangkan tekanan osmotik. Ginjal akan menerima lebih banyak air, sehingga penderita akan sering buang air kecil. Konsekuensi lain dari hal ini adalah, tubuh kekurangan air. Penderita mengalami dehidrasi (hiperosmolaritas) bertambahnya rasa haus dan gejala banyak minum (polidipsia).
Gejala yang diterima oleh penderita diabetes tipe I biasanya lebih komplek, karena mereka kadang tidak dapat menghasilkan insulin sama sekali. Akibatnya gangguan metabolik yang dideritanya juga mempengaruhi metabolisme lemak dan bahkan asam amino. Penderita tidak dapat memperoleh energi dari katabolisme glukosa. Energi adalah hal wajib yang harus dimiliki oleh sel tubuh, sehingga tubuh akan mencari alternatif substrat untuk menghasilkan energi tersebut. Cara yang digunakan oleh tubuh adalah dengan merombak simpanan lemak pada jaringan adiposa (Gambar 2.9). Lemak dihidrolisis sehingga menghasilkan asam lemak dan gliserol. asam lemak dikatabolisme lebih lanjut dengan melepas dua atom karbon satu persatu menghasilkan asetil-KoA.
Penguraian asam lemak terus menerus mengakibatkan terjadi penumpukan asam asetoasetat dalam tubuh.Asam asetoasetat dapat terkonversi membentuk aseton, ataupun dengan adanya karbondioksida dapat dikonversi membentuk asam β-hidroksibutirat. Ketiga senyawa ini disebut sebagai keton body yang terdapat pada urine penderita serta dideteksi dari bau mulut seperti keton. Penderita mengalami ketoasidosis dan dapat meninggal dalam keadaan koma diabetik (Kaplan dan Pesce, 1992).
Ketidaksediaan glukosa dalam sel juga mengakibatkan terjadinya glukoneogenesis secara berlebihan.. Sel-sel hati akan meniungkatkan produksi glukosa dari substrat lain, salah satunya adalah dengan merombak protein. Asam amino hasil perombakan ditransaminasi sehingga dapat menghasilkan substrat atau senyawa antara dalam pembentukan glukosa. Peristiwa berlangsung terus-menerus karena insulin yang membatasi glukoneogenesis sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. Glukosa yang dihasilkan kemudian akan terbuang melalui urine. Akibatnya, terjadi pengurangan jumlah jaringan otot dan jaringan adiposa secara signifikan. Penderita akan kehilangan berat tubuh yang hebat kendati terdapat peningkatan selera makan (polifagia) dan asupan kalori normal atau meningkat (Granner, 2003).
Penderita diabetes tipe I juga mengalami hipertrigliseridemia, yaitu kadsar trigliserida dan VLDL dalam darah yang tinggi. Hipertrigliseridemia terjadi karena VLDL yang disintesis dan dilepaskan tidak mampu diimbangi oleh kerja enzim lipoproteinlipase yang merombaknya. Jumlah enzim ini diransang oleh rasio insulin dan glukagon yang tinggi. Defek pada produksi enzim ini juga mengakibatkan hipersilomikronemia, karena enzim ini juga dibutuhkan dalam katabolisme silomikron pada jaringan adiposa.
Berbeda dengan penderita diabetes tipe I, pada penderita diabetes tipe II, ketoasidosis tidak terjadi karena penguraian lemak (lipolisis) tetap terkontrol. Namun, pada terjadi hipertrigliseridemia yang menghasilkan peningkatan VLDL tanpa disertai hipersilomikronemia. Hal ini terjadi karena peningkatan kecepatan sintesis de novo dari asam lemak tidak diimbangi oleh kecepatan penyimpanannya pada jaringan lemak. Asam lemak yang dihasilkan tidak semuanya mampu dikatabolisme, kelebihannya diesterifikasi menjadi trigliserida dan VLDL. Hal ini diperparah oleh aktivitas fisik penderita diabetes mellitus tipe II yang pada umumnya sangat kurang. Akibatnya kadar lemak dalam darah akan meningkat. Pada penderita yang akut, akan terjadi penebalan pada pembuluh darah terutama pada bagian mata, sehingga dapat menyebabkan rabun atau bahkan kebutaan (Harris dan Crabb, 1992).
Kelainan tekanan darah akibat kadar glukosa yang tinggi menyebabkan kerja jantung, ginjal dan organ dalam lain untuk mempertahankan kestabilan tubuh menjadi lebih berat. Akibatnya pada penderita diabetes akan mudah dikenai berbagai komplikasi diantaranya penurunan sistem imune tubuh, kerusakan sistem kardivaskular,kealinan trombosis, inflamasi, dan kerusakan sel-sel endothelia serta kerusakan otak, yang biasanya ditandai dengan penglihatan yang kabur (Clement et al, 2004).
Dampak dramatis dari diabetes mellitus terhadap kesehatan seseorang sangatlah kompleks. Diabetes mellitus dan penyakit turunannya telah menjadi ancaman serius. Penyakit ini membunuh 3,8 juta orang per tahun dan dalam setiap 10 detik seorang penderita akan meninggal karena sebab-sebab yang terkait dengan diabetes.











BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1. Karbohidrat adalah senyawa organik terdiri dari unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. Karbohidrat terbagi menjadi 3 kelompok yaitu monosakarida, disakarida, polisakarida.
2. Metabolisme karbohidrat dan diabetes mellitus adalah dua mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Keterkaitan antara metabolisme karbohidrat dan diabetes mellitus dijelaskan oleh keberadaan hormon insulin
3. Diabetes Melitus adalah Suatu penyakit kronis yang ditandai dengan hiperglikemia, gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, protein yang berkaitan dengan berkurangnya Insulin baik secara absolute maupun relative.











DAFTAR PUSTAKA



A.Kusumawardhani.2006. Food Addiction in Obesity. Majalah kedokteran Indonesia. Volume:56, hal.205-208

Mu’tadin, Zainun.2002. Obesitas dan Faktor Penyebabnya. Diunduh dari: http//www.e-psikologi.com/remaja/index.htmn. 3 mei 2009

Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar- Dasar Biokimia. UI-Press. Yogyakarta.
Yanovski, susan Z.,dan Yanovski, Jack A. 2002. Obesity. NEJM. Volume: 346 hal.591-602

Sumber dari internet :

www.exelsa.usd.ac.id/goDownload.php?file=uploads/materi/dislipidemia/DislipidemiA.doc diakses tanggal 3 mei 2009 pukul 15.24

http://library.usu.ac.id/download/fk/gizi-bahri3.pdf diakses tanggal 3 mei 2009 pukul 15.24

http://freemedicarticles.blogspot.com/ diakses tanggal 3 mei 2009 pukul 15.24
http://dokter-alwi.com/dislipidemia.html diakses tanggal 3 mei 2009 pukul 15.24

Rabu, 17 Februari 2010

‘SUB CLASSIS DILLENIIDAE”

PRAKTIKUM IV

Topik : Sub classis Dilleniidae
Tujuan : Mengetahui ciri-ciri morfologi dan aspek botani beberapa tumbuhan yang termasuk dalam sub classis Dilleniidae
Hari, tanggal : Selasa, 13 November 2007
Tempat : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

I. ALAT DAN BAHAN
1.1 Alat yang dipergunakan :
1. Baki/nampan
2. Pisau/silet/cutter
3. Lup
4. Alat-alat tulis (kertas, pensil, penggaris, dll)
1.2 Bahan yang dipergunakan :
1. Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)
2. Coklat (Theobroma cacao L.)
3. Randu/kapuk (Ceiba pentandra Gaertn. Var indica Bakh.)
4. Pepaya (Carica papaya L.)
5. Tanjung (Mimusops elengi L.)

II. CARA KERJA
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Mengamati dan mencatat sifat-sifat (character) serta ciri-ciri dari specimen yang meliputi :
a. Perawakan tumbuhan
b. Periodisitas (umur)
c. Sifat-sifat akar
d. Sifat-sifat batang
e. Sifat-sifat daun
f. Sifat-sifat bunga
g. Sifat-sifat buah dan biji
h. Menentukan sifat-sifat lain seperti adanya derivat epidermis, sifat anatomi, pollen dan kandungan bahan kimia yang dapat merupakan sifat dalam determinasi tumbuhan.
3. Menggambar hasil pengamatan yang meliputi :
a. Tumbuhan lengkap atau cabang lengkap
b. Bagian-bagian dari tumbuhan (daun, bunga dan buah)
c. Irisan melintang atau membujur bunga
d. Irisan melintang atau membujur buah
4. Menentukan aspek botani atau nilai ekonomis dari setiap specimen yang diamati.
5. Melakukan pertelaan/determinasi untuk setiap specimen yang diamati.

III. TEORI DASAR
Tumbuhan yang termasuk sub classis Dillenidae mempunyai ginaesium sinkarpus, kecuali pada ordo Dilleniales yang apokarpus. Stamen masak secara sentrifugal dengan pollen yang binukleat kecuali pada famili Cruciferae yang trinukleat. Ovula unitegmik atau biregmik dengan endosperm yang “crassinucellate”. Kebanyakan yang termasuk anggota sub classis Dilleniidae merupakan tumbuhan berkayu.
Pollen yang mewakili sub classis Dilleniidae diketemukan berupa fosil dari sekitar 100 juta tahun yang lalu pada awal periode Kretaseus bawah. Sub classis Dilleniidae terdiri dari 13 ordo, 78 famili dan sekitar 25.000 species.
Suku Dilleniaceae berupa pohon, perdu atau liana. Biasanya mengandung falvonol mirisetin (yang jarang pada Magnoliidae), bertanin, biasanya dengan asam ellagat dan proantosianin, tanpa sel-sel minyak atsiri dan kebanyakan tanpa alkaloid. Daun tunggal, tersebar, jarang berhadapan, stipula tak ada atau seperti sayap menempel pada petiolus. Bunga tunggal atau dalam simosa atau rasemus, kuning atau putih, biseksual, sepal 5, imbrikatus, persisten, petal 5, imbrikatus, cepat jatuh, stamen banyak. Ginaesium dengan ovarium superus, beberapa sampai banyak karpel, ruang banyak, ovul 1 atau lebih tiap karpel. Buah baka atau folikulus, biji dengan endosperm.


V. ANALISIS DATA
1. Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)
Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) mempunyai habitus berupa perdu dengan tinggi antara 1-4 m. Periodisitasnya pirenial dengan sistem perakaran tunggang. Mempunyai batang yang berbentuk bulat dengan arah tumbuh yang tegak, permukaan batangnya kasar. Percabangan simpodial. Daunnya merupakan daun yang tidak lengkap karena tidak mempunyai pelepah daun. Mempunyai tata letak daun tersebar yang berselang-seling dan mempunyai stipula. Bentuk daun bulat telur meruncing, kebanyakan tidak berlekuk, dengan tepinya yang bergerigi kasar dan ujung yang meruncing sementara pangkal daunnya tumpul dengan pertulangan daun menyirip. Tekstur daunnya licin berwarna hijau tua. Daun penumpu berbentuk garis.
Bunga tunggal atau dalam pembungaan stimosa, berdiri sendiri di ketiak atau sedikit menggantung. Bunga berukuran cukup besar dan pada bagian luar lingkaran kelopak bunganya masih mempunyai daun-daun yang menyerupai kelopak yang disebut kelopak tambahan. Daun mahkota cukup lebar dengan jumlah yang lebih dari empat, bebas satu sama lain tetapi pada pangkal seringkali berlekatan dengan buluh yang merupakan perlekatan tangkai-tangkai sarinya. Daun mahkota berbentuk telur terbalik, bentuk baji dengan panjang 5,5-8,5 cm, berwarna merah dengan noda tua pada pangkal, berwarna daging, oranye atau kuning. Benang sarinya banyak dan berlekatan membentuk suatu kolom yang berongga yang menyelubungi putik. Tabung benang sari sama panjang dengan mahkota. Bakal buah beruang 5.
Aspek botani Kembang sepatu ditanam sebagai tanaman hias dan tanaman obat.
Klasifikasi menurut (Cronquist.1981):
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub Classis : Dilleniidae
Ordo : Malvales
Familia : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Species : Hibiscus rosa-sinensis L.
Kunci Determinasi Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) :
1b-2b-3b-4b-6b-7b-9b-10b-11b-12b-13b-14a-15a-109b-119a-120b-128b-129b-135b-136b-139b-140b-142b-143a-144a Familia Malvaceae

2. Coklat (Theobroma cacao L.)
Coklat (Theobroma cacao L.) mempunyai habitus berupa pohon kecil. Periodisitasnya pirenial dengan sistem perakaran tunggang. Mempunyai batang yang berbentuk bulat dengan arah tumbuh yang tegak, permukaan batangnya kasar, dengan percabangan yang monopodial. Daun coklat bertangkai dan berbentuk jorong memanjang dengan ujung daun meruncing dan pangkal daunnya tumpul. Tekstur daunnya kasar, berwarna hijau muda.
Coklat mempunyai bagian bunga lengkap di mana bunganya berkelamin dua dan berbilang 5, terdapat dalam berkas di ketiak atau pada kayu yang tua. Daun kelopak berbentuk lanset panjang dan berwarna putih, kadang-kadang keunguan. Daun mahkota panjang (8-9 mm), kuku dari dalam dengan dua rusuk merah, helaiannya menggantung berwarna putih kuning atau kemerahan. Tabung benang sari berbentuk periuk dan tiap kali 2 benang sari yang seluruhnya bersatu, berseling dengan 1 staminodium yang berwarna ungu tua dengan ujung yang putih. Bakal buah beruang 5 dengan bakal biji yang banyak. Buah coklat merupakan buah buni yang berbentuk bulat telur memanjang dengan 5 pasang rusuk. Penampang melintang buah memperlihatkan eksokarpium, endokarpium dan salut biji.
Aspek botani Coklat merupakan tanaman industri yang buahnya dapat dimanfaatkan untuk membuat coklat olahan maupun jenis makanan lainnya.
Klasifikasi menurut (Cronquist.1981)
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub Classis : Dilleniidae
Ordo : Malvales
Familia : Sterculiaceae
Genus : Theobroma
Species : Theobroma cacao L.
Kunci Determinasi Coklat (Theobroma cacao L.) :
1b-2b-3b-4b-6b-7b-9b-10b-11b-12b-13b-14a-15a-109b-119b-120b-128b-129b-135b-136b-139b-140b-142b-143a-144b-145b
Familia Sterculiaceae

3. Randu/Kapuk (Ceiba pentandra Gaertn. Var indica Bakh.)
Randu mempunyai habitus berupa pohon yang tingginya antara 8-30 m dan menggugurkan bunga. Periodisitasnya pirenial dengan sistem perakaran tunggang. Mempunyai batang yang berbentuk bulat dengan arah tumbuh yang tegak lurus, permukaan batangnya licin, dengan percabangan yang monopodial. Terdapat alat-alat tambahan pada batang muda yang dilengkapi dengan duri berbentuk kerucut. Tajuk jarang dan cabang berada dalam tiga-tiga, menyimpang ke samping secara horizontal.
Daun randu ini merupakan daun majemuk yang bertipe menjari beranak daun tujuh karena mempunyai tujuh anak daun pada ujung ibu tangkainya. Daun randu ini mempunyai tangkai yang panjang. Anak daun mempunyai panjang antara 5-16 cm dengan susunan tulang daun yang menjari. Tekstur daunnya kasap berwarna hijau.
Bunga terkumpul di ketiak daun yang sudah rontok dekat dengan ujung ranting. Kelopak berbentuk lonceng, berlekuk 5 pendek. Daun mahkota berbentuk bulat telur terbalik memanjang dan pada pangkalnya bersatu, berwarna mentega dan dari luar berambut rapat. Benang sari yang berjumlah 5 buah bersatu membentuk tabung pendek. Bakal buah beruang 5 dengan bakal biji yang banyak. Tangkai putik berbentuk benang. Buah memanjang, menggantung dan membuka dari bawah ke atas dengan katup yang dilengkapi dengan rambut wol yang panjang. Di dalam buah itulah terdapat kapas dan biji.
Aspek botani Kapas buahnya dapat digunakan untuk bahan dasar membuat kasur.
Klasifikasi menurut (Cronquist.1981):
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub Classis : Dilleniidae
Ordo : Malvales
Familia : Bombaceae
Genus : Ceiba
Species : Ceiba pentandra Gaertn. Var indica Bakh.
Kunci Determinasi Randu/Kapuk (Ceiba pentandra Gaertn. Var indica Bakh.) :
1b-2b-3b-4b-6b-7b-9b-10b-11b-12b-13b-14a-15a-109b-119b-120b-128b-129b-135b-136b-139b-140b-142b-143a-144b-145a
Familia. Bombaceae

4. Pepaya (Carica papaya L.)
Papaya mempunyai habitus berupa herba berkayu atau semak berbentuk pohon dengan batang yang lurus, dengan tipe batang yang herbaceus. Bentuk batang tanaman Pepaya bulat berongga serta bergetah dan terdapat bekas tangkai daun yang telah lepas pada permukaan kulit batangnya. Arah tumbuh batang tegak lurus dengan percabangan yang monopodial.
Daun berjejal pada ujung batang batang, memilki tangkai daun yang panjang dengan bangun/helaian daun yang bulat. Ujung daunnya runcing sementara pangkal daunnya bulat, dengan tipe daun yang bercangap menyirip.
Pepaya merupakan tumbuhan poligami (polygamus) karena pada tumbuhan ini terdapat bunga jantan, bunga betina dan bunga banci secara bersama-sama. Tajuk bunga pada bunga jantan berbentuk terompet dan berwarna putih kekuningan. Tenda bunganya keras dan berjumlah lima buah dan dilengkapi dengan kelopak yang terletak pada lingkaran luar yang berwarna hijau, lebih kecil dan lebih kasar daripada hiasan bunga yang terdapat disebelah dalam. Bunga betina kebanyakan berdiri sendiri dengan daun mahkota yang lepas atau hampir lepas serta berwarna putih kekuningan. Bakal buahnya beruang satu.
Buah Pepaya berbentuk bulat telur memanjang, berdaging dan berisi cairan. Bijinya banyak dan dibungkus oleh selaput yang berisi cairan dan di dalamnya berduri tempel berjerawat. Daunnya yang muda dan terutama buah yang mentah berisi suatu enzim yang dinamakan papaine, yang mempunyai sifat melarutkan putih telur (menghancurkan).
Aspek botani Pepaya yaitu buah yang sudah masak dapat dimakan, rasanya manis bahkan ada pula yang terasa kurang manis/tawar, sementara buah yang masih muda, bunga, maupun daunnya dapat dijadikan sebagai sayuran.
Klasifikasi menurut (Cronquist.1981):
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub Classis : Dilleniidae
Ordo : Violales
Familia : Caricaceae
Genus : Carica
Species : Carica papaya L.
Kunci Determinasi Pepaya (Carica papaya L.) :
1b-2b-3b-4b-6b-7b-9b-10b-11b-12b-13b-14a-15a-109b-119b-120a-121b-124b-125a-126a Familia. Caricaceae


5. Tanjung (Mimusops elengi L.)
Tanjung mempunyai habitus berupa pohon yang tingginya bisa mencapai 15 m. Periodisitasnya pirenial dengan sistem perakaran tunggang. Mempunyai batang yang berbentuk bulat dengan arah tumbuh yang tegak lurus, permukaan batangnya kasar, dengan percabangan yang monopodial. Daunnya berbentuk jorong atau bulat telur memanjang. Mempunyai pangkal daun yang bulat dan ujung tumpul, dan tepi daunnya berombak. Urat daunnya menyirip dengan tekstur daun licin berwarna hijau tua.
Bunganya merupakan bunga tunggal atau dua dalam ketiak daun, menggantung, berkelamin dua dan berbau enak. Daun kelopak dalam 2 karangan empat yang perlahan-lahan menyempit. Mahkota sama panjangnya dengan kelopak, berwarna putih kotor dengan tabung lebar yang pendek dan sedikit banyak terletak dalam 2 karangan. Benang sari tertancap dalam leher yang berambut, berseling dengan staminodia yang ujungnya bergigi dan pipih. Tangkai putik tidak atau hampir tidak dapat menjulang di luar bunga. Buah memanjang, berwarna merah oranye dengan kelopak yang tidak rontok. Bijinya satu dengan sisi yang pipih, berwarna hitam coklat dan terdapat dalam daging buah yang berwarna muda.
Aspek botani Tanjung dapat ditanam sebagai tanaman pelindung dan dapat dimanfaatkan untuk membuat minyak wangi dan campuran kosmetik.
Klasifikasi menurut (Cronquist.1981):
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub Classis : Dilleniidae
Ordo : Ebenales
Familia : Sapotaceae
Genus : Mimusops
Species : Mimusops elengi L.
Kunci Determinasi Tanjung (Mimusops elengi L.) :
1b-2b-3b-4b-6b-7b-9b-10b-11b-12b-13b-14a-15a-109b-119b-120a-121b-124b-125a-126b-127a- Familia Sapotaceae

VI. KESIMPULAN
1. Ciri-ciri morfologi dari beberapa tumbuhan yang termasuk dalam sub classis Dilleniidae adalah kebanyakan habitusnya berupa pohon, mempunyai ginaesium sinkarpus, stamen masak secara sentrifugal dengan pollen yang binukleat.
2. Tumbuhan yang termasuk dalam sub classis Dilleniidae antara lain: Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.), Coklat (Theobroma cacao L.), Randu/kapuk (Ceiba pentandra Gaertn. Var indica Bakh.), Pepaya (Carica papaya L.), dan Tanjung (Mimusops elengi L.)
3. Aspek botani dari specimen yaitu : buah Coklat dan Pepaya dapat dikonsumsi oleh manusia, khususnya Coklat mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
4. Aspek botani Randu/kapuk digunakan sebagai bahan membuat kasur.
5. Aspek botani Kembang sepatu merupakan tanaman hias.
6. Aspek botani Tanjung ditanam sebagai tanaman pelindung dan dapat dimanfaatkan untuk membuat minyak wangi dan campuran kosmetik.

VII. DAFTAR PUSTAKA
Adrak, Adria Rifarin dan Sri Amintarti. 2007. Penuntun Praktikum Botani Tumbuhan Tinggi. FKIP UNLAM. Banjarmasin.

Dasuki, Undang Ahmad. !994. Sistematik Tumbuhan Tinggi. Pusat Antar Universitas Bidang Ilmu Hayati. ITB.

Tjitrosoepomo, Gembong. 2003. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, Gembong. 1991. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Steenis, Van. 2003. Flora. PT. Pradnya Paramita. Jakarta.

“MODEL-MODEL PEMBELAJARAN”


“MODEL-MODEL PEMBELAJARAN”



1. NUMBERED HEAD TOGETHER
(Spencer Kagan 1992)
Langkah-langkah:
• Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor
• Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
• Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
• Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka
• Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain
• Kesimpulan

2. EXAMPLE NON EXAMPLE (GAMBAR DAPAT DARI KASUS/GAMBAR YANG RELEVAN DENGAN KD)
LANGKAH-LANGKAH
• Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
• Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan
• Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar
• Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dan analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
• Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
• Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
• Kesimpulan

3. COOPERATIVE SCRIPT
DANSEREAU, 1985
Metode belajar dimana siwa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari
Langkah-langkah
1). Guru membagi siswa untuk berpasangan
2). Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
3). Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
4). Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin,dengan memasukkan Ide-ide pokok dalam ringkasannya.
5). Sementara pendengar : meyimak/mengoreksi/menunjukan ide-ide pokok yang kurang lengkap
6). Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
7). Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti di atas.
8). Kesimpulan siswa bersama-sama dengan guru.
9). Penutup




4. KEPALA BERNOMOR STRUKTUR (MODIFIKASI DARI NUMBER HEADS)
Langkah-langkah
a. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
b. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan terhadap tugas yang berangkai misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya.
c. Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka
d. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
e. Kesimpulan

5. STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION
TIM SISWA KELOMPOK PRESTASI
SLAVIN 1995
Langkah-langkah
• Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku dll)
• Guru menyajikan pelajaran
• Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggta kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti
• Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa, Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
• Memberi evaluasi
• Kesimpulan

6. JIGSAW (MODEL TIM AHLI)
Aroson, Blaney,Stephen, Sikes, and Snapp 1978
Langkah-langkah
• Siswa dikelompokkan dalam = 4 anggota tim
• Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
• Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
• Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
• Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kelompok kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
• Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
• Guru memberi evaluasi
• Penutup

7. PROBLEM BASE INSTRUCTIONAL (PBI)
Pembelajaran berdasarkan masalah
Langkah-langkah
• Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yanh dipilih
• Guru membantu siswa mendifinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut ( menetapkan topik, tugas, jadwal dll)
• Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
• Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka membagi tugas dengan temannya.
• Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

8. ARTIKULASI
Langkah-langkah
• Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
• Guru menyampaikan materi sebagai mana biasa
• Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang
• Suruhlaah seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengarkan sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya
• Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya
• Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum difahami siswa
• Kesimpulan/penutup
9. MIND MAPPING
Sangat baik digunakan untuk pengetahuan
awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban
Langkah-langkah
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Guru mengemukaakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa / sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
4. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
5. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya
6. dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
7. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru
8. memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru

10. MAKE A MATCH
(MENCARI PASANGAN)
Lorne Curran, 1994
Langkah-langkah :
• Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian kartu jawaban
• Setiap siswa mendapat satu buah kartu.
• Setiap siswa memikirkan jawaban/soal dan kartu yang dipegang
• Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal/jawaban)
• Setiap siswa yang dapat mencocokan kartunya sebelum batas waktunya diberi nilai/skor
• Setiap satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
• Lakukan seterusnya
• kesimpulan//penutup

11. THINK PAIR AND SHARE
(FRANK LYMAN,1985)
Langkah-langkah :
• Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin di capai
• Siswa diminta untuk berfikir tentang materi atau permasalahan yang telah disampaikan guru
• Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok = 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
• Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
• Awal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para siswa
• Kesimpulan
• Penutup

12. DEBATE
Langkah-langkah :
• Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yang lainnya kontra
• Guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akan didebatkan oleh kedua kelompok di atas
• Setelah selesai membaca materi. Guru menunjuk salah satu anggotanya dari kelompok pro untuk berbicara, saat itu di tanggapi atau dibahas oleh kelompok kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mengemukakan pendapatnya
• Sementara siswa menyampaikan gagasannya guru menulis ide-ide dari setiap pembicara dipapan tulis. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi
• Guru dan siswa menambahkan konsep/ide yang belum terungkap
• Dari data-data dipapan tersebut
• Guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai

13. ROLE PLAYING
Langkah-langkah:
1. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan
2. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum kbm
3. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang
4. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai
5. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan
6. Masing-masing siswa duduk dikelompoknya, masing-masing sambil memperhatikan mengamati skenario yang sedang diperagakan
7. Setelah selesai dipentaskan masing-masing diberi kertas sebagai lembar kerja untuk membahas
8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
9. Guru memberikan kesimpulan secara umum
10. Evaluasi
11. Penutup
14. GROUP INVESTIGATION
(sharan, 1992)
Langkah-langkah:
1. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
2. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
3. guru memanggil ketua-ketua untuk satu materi tugas sehingga satu kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain
4. Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif berisi penemuan
5. Setelah selesai diskusi, lewat juru bicara, ketua menyampaikan hasil pembahasan kelompok
6. Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan
7. Evaluasi
8. Penutup
15. TALKING STIK
Langkah-langkah :
1. Guru menyiapkan sebuah tongkat
2. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi pada peganganya/paketnya
3. Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya
4. Guru mengembil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikain seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab pertanyaan guru
5. Guru memberikan kesimpulan
6. Evaluasi
7. Penutup
16. BERTUKAR PASANGAN
Langkah-langkah :
1. Setiap siswa mendapat satu pasangan (guru bisa menunjukkan pasangannya atau siswa menunjukkan pasangannya)
2. Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya
3. Setelah selesai setiap pasangan bergabung dengan satu pasangan yang lain
4. Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan masing-masing pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka
5. Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula

17. SNOWBALL THROWING
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan materi yang akan disamapikan
2. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk menjelaskan tentang materi
3. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyagkut materi yang sudah di jelaskan oleh ketua kelompok
4. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama ± 15 menit
5. Setelah siswa mendapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan siswa untuk menjawab pertanyaan yang ditulis kedalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian
6. Evaluasi
7. Penutup
18. STUDENT FASILITATOR AND EXPLANING
(siswa/peserta mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta lainnya)
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin di capai
2. Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi
3. Memberikan kesempatan siswa/peserta untuk menjelaskan kepada peserta lainnya baik melalui bagan/peta konsep maupun yang lainnya
4. Guru menyimpulkan ide/pendapat dari siswa
5. Guru menerangkan materi yang disajikan
6. Penutup

19. COURSE REVIEW HORAY
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi
3. Memberikan kesempatan siswa tanya jawab
4. Untuk menguji pemahaman, siswa disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera masing-masing siswa
5. Guru membaca soal secara acak dan siswa menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan kalau benar diisi tanda benar (V) dan salah diisi tanda silang (X)
6. Siswa yang sudah mandapat tanda (V) vertikal atau horizontal atau diagonal harus berteriak horay… atau yel-yel lainnya
7. Nilai siswa dihitung dari jawaban benar jumlah horay yang diperoleh
8. Penutup

20. DEMONSTRATION
(khusus materi yang memerlukan peragaan atau percobaan misalnya Gussen)
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan TPK
2. Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan
3. Siapkan bahan dan alat yang diperlukan
4. Menunjukkan salah seorang siswa untuk mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan
5. Seluruh siswa memperhatikan demonstrasi dan menganalisa
6. Tiap siswa atau kelompok mengemukakan hasil analisanya dan juga pengalaman siswa dideomstrasikan
7. Guru membuat kesimpulan

21. EXPLICIT INTRUCTION
(PENGAJARAN LANGSUNG)
(ROSENSHINA & STEVENS, 1986)
Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan proseduran dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah
Langkah-langkah :
1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
2. Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan
3. Membimbing pelatihan
4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
5. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan

22. OPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC)
Kooperatif terpadu membaca dan menulis
(Steven & slavin, 1995)
Langkah-langkah :
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacan/kliping dan tulis pada selembar kertas
4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
5. Guru membuat kesimpulan bersama
6. penutup

23. INSIDE-OUTSIDE-CIRCLE
LINGKARAN KECIL-LINKARAN BESAR
OLEH SPENCER KAGAN
Siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan. Pasangan-pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur
Langkah-langkah :
1. Seluruh kelas berdiri membetuk lingkaran kecil dan menghadap keluar
2. Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran diluar lingkaran pertama,menghadap kedalam
3. Para siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi
4. Bertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan
5. Kemudian siswa berada di lingkaran kecil dalam di tempat, sementara siswa yang berada dilingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum jam
6. Sekarang giliran siswa berada di lingkaran besar yang membagi informasi demikian seterusnya

24. TEBAK KATA
MEDIA :
buat kartu berukuran 10x10 cm dan isilah atau ciri-ciri atau kata-kata lainnya, yang mengarah pada jawaban (istilah) pada kartu yang ingin ditebak.
Buat kartu ukuran 5x2cm untuk menulis kata-kata atau istilah yang mau ditebak (kartu ini nanti dilipat dan ditempel pada dahi atua diselipkan ditelinga)
Langkah-langkah :
1. Jelaskan TPK atau materi ± 45 menit
2. Suruhlah siswa berdiri didepan kelas dan berpasangan
3. Seorang siswa diberi kartu berukuran 10x10cm yang nanti dibacakan pasangannya. Seorang siswa yang lainnya diberi kartu yang berukuran 5x2cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan ditelinga
4. Sementara siswa membawa kartu 10x10cm membacakan kata-kata yang tertullis didalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud dalam kartu 10x10cm. Jawaban tepat bila sesuai dengan isi kartu yang di tempelkan di dahi atau ditelinga
5. Apabila jawabannya tepat ( sesuai yang tertulis di kartu) maka pasangan itu boleh duduk. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung di beri jawabannya.
CONTOH KARTU
• Perusahaan ini tanggung jawabnya tidak terbatas
• Dimiliki oleh satu orang
• Struktur organisasinya tidak resmi
• Bila untung dimiliki, diambil sendiri
NAH…..SIAPA…..AKU?

JAWABNYA :PERUSAHAAN PERSEORANGAN
LATAR BELAKANG TIMBULNYA KOPERASI INDONESIA
KATA KONSEP
Penjajahan UU Kep/stb No 91 tahun 1992
Penderitaan Asas Demokrasi
Kemiskinan Ekonomi Rakyat
Solidaritas Alat distribusi
Organisasi Koperasi Asas Pancasila
Aria Wirya Atmaja UUD 1995 Pasal 23
Bank Penolong & tabungan UU no 12 tahun 1997
Koperasi Simpan Pinjam UU No 25 tahun 1992
Budi Utomo
Serikat Dagang Islam Koperasi Konsumsi
Lanjutan
Tugas
a. Buatlah sekurang-kurangnya lima kalimat menurut pendapatmu sendiri. Secara ringkas harus mencakup paling sedikit 4 kata dari daftar diatas dan setiap kata dapat dipakai berulang-ulang
b. Kerja kelompok
Diskusikanlah kalimat-kalimat anda apabila kalimat anda sudah benar
c. Hasil diskusi kelompok. Didiskusikan kembali untuk mendapatkan kesimpulan

25. WORD SQUARE
MEDIA :
Buat kotak sesuai keperluan
buat soal sesuai TPK
Langkah-langkah :
1. Sampaikan materi sesuai TPK
2. Bagikan lembar kegiatan sesuai contoh
3. Siswa disuruh memjawab soal kemudian mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban
4. Berikan point setiap jawaban dalam kotak

Contoh :
T Y E N I O K N
R A U A N K U O
A B A R T E R M
N A N I P R S I
S D G I I T G N
A O N L S A I A
K L A A I S R L
S A C E K B O S
I R I N G G I T
CONTOH SOAL:
1. Sebelum mengenal uang orang melakukan pertukaran dengan cara ….
2. … digunakan sebagai alat pembayaran yang sah
3. Uang … saat ini banyak dipalsukan
4. Nilai bahan pembuatan uang disebut …
5. Kemampuan uang untuk ditukar dengan sejumlah barang disebut nilai ..
6. Nilai perbandingan uang dalam negara dengan mata uang asing disebut …
7. Nilai yang tertulis pada mata uang disebut nilai …
8. Dorongan sesorang menyimpan uang untuk keperluan jual beli disebut motif …
9. Perintah tertulis dari seseorang yang mempunyai rekening ke bank untuk membayar sejumlah uang disebut …

26. SCRAMBLE
MEDIA :
• Buatlah pertanyaan yang sesuai dengan TPK
• Buat jawaban yang diacak hurufnya
Langkah-langkah :
1. Guru menyajikan materi sesuai TPK
2. Membagikan lembar kerja sesuai contoh
Susunlah huruf-huruf pada kolom sehingga merupakan kata kunci (jawaban) dari pertanyaan kolom A


TAKE AND GIVE
MEDIA :
• Kartu ukuran ±10x15cm sejumlah peserta tiap kartu berisi sub materi (yang berbeda dengan kartu yang lainnya) sesuai dengan TPK
• Kartu contoh sejumlah mahasiswa
• CONTOH kartu :


Langkah-langkah :
1. Siapkan kelas sebagaimana mestinya
2. Jelaskan materi sesuai TPK
3. Untuk memantapkan penguasaan tiap siswa diberi masing-masing satu kartu untuk dipelajari (dihapal) ± 5 menit
4. Semua siswa disuruh berdiri dan mencari pasangan untuk saling menginformasi. Tiap siswa harus mencatat nama pasangannya pada kartu contoh
5. Demikian seterusnya sampai tiap peserta dapat saling memberi dan menerima materi masing-masing (take and give)
6. Untuk mengevaluasi keberhasilan berikan siswa pertanyaan yang tak sesuai dengan kartunya (kartu orang lain)
7. Strategi ini dapat dimodifikasi sesuai keadaan
8. Kesimpulan

28. CONSEPTSENTENSE
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2. Guru menyajikan materi secukupnya
3. Guru membentuk kelompok yang anggotanya ±4 orang secara heterogen
4. Menyajikan beberapa kata kunci sesuai materi yang disajikan
5. Tiap kelompok disuruh membuat beberapa kalimat dengan menggunakan minimal 4 kata kunci setiap kalimat
6. Hasil diskusi kelompok. Didiskusikan lagi secara pleno yang di pandu guru
7. Kesimpulan

29. COMPLETTE SENTENSE
Media : Siapkan blangko isian berupa paragraf yang kalimatnya belum lengkap
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan yang ingin di capai
2. Menyampaikan materi atau peserta disuruh membacakan buku model dengan waktu secukupnya
3. Bentuk kelompok 2 atau 3 orang secara heterogen
4. Buatkan lembar kerja berupa paragraf yang kalimatnya belum lengkap (lihat contoh)
5. Peserta diharap berdiskusi untuk melengkapi kalimat dengan kunci jawaban yang tersedia
6. Diskusikan bersama-sama anggota kelompok
7. Jawaban-jawaban benar yang salah diperbaiki. Tiap peserta disuruh membaca berulang-ulang sampai mengerti atau hapal
8. Kesimpulan

30. TIME TOKEN ARENDS 1998
Struktur yang dapat digunakan untuk mengajarkan keterampilan sosial, untuk menghindari siswa mendominasi pembicaraan atau siswa diam sama sekali
Langkah-langkah :
1. Kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi (cooperative learning / CL)
2. Tiap siswa diberi kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik
a. Tiap siswa diberi sejumlah nilai sesuai waktu keadaan
3. Bila telah selesai bicara, kupon yang dipegang siswa diserahkan. Setiap berbicara satu kupon
4. Siswa yang telah habis kuponnya tidak boleh bicara lagi. Yang masih pegang kupon harus bicara sampai kuponnya habis
5. Dan seterusnya

31. PAIR CHEKS SPENCER KAGEN 1993
• APA YANG DILAKUKAN?
• BEKERJA BERPASANGAN
Bentuk tim dalam pasangan-pasangan dua siswa dalam pasangan itu mengerjakan soal yang pas sebab semua itu akan membantu melatih
• PELATIH MENGECEK
Apabila partner benar pelatih memberi kupon
• BERTUKAR PERAN
seluruh partner bertukar peran dan mengurangi langkah 1 – 3
• PASANGAN MENGECEK
seluruh pasangan tim kembali bersama dan membandingkan jawaban
• PENEGASAN GURU
guru mengarahkan jawaban/ide sesuai konsep

32. KELILING KELOMPOK
Maksudnya agar masing-masing anggota kelompok mendapat kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota lainnya
Caranya ………?
1. Salah satu siswa dalam masing-masing kelompok menilai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang mereka kerjakan
2. Siswa berikutnya juga ikut memberikan kontribusinya
3. Demikian seterusnya giliran bicara bisa dilaksanakan arah perputaran jarum jam atau dari kiri ke kanan

PENDIDIKAN DAN PERKEMBANGAN

BAB I
A. PENDAHULUAN
Pendidikan menduduki posisi sentral dalam pembangunan karena sasarannya adalah peningkatan kualitas SDM. Oleh karena itu, pendidikan juga merupakan alur tengah pembangunan dari seluruh sektor pembangunan. Terdapat suatu kesan bahwa persepsi masyarakat umum tentang arti pembangunan lazimnya bersifat menjurus. Pembangunan semata-mata hanya beruang lingkup pembangunan material atau pembangunan fisik berupa gedung, jembatan, pabrik, dan lain-lain. Padahal sukses tidaknya pembangunan fisik itu justru sangat ditentukan oleh keberhasilan dalam pembangunan rohaniah atau spiritual, yang secara bulat diartikan sebagai pembangunan manusia, dan yang terakhir ini merupakan tugas utama pendidikan.
Persepsi yang keliru tentang arti pembangunan, yang menganggap bahwa pembangunan itu hanya semata-mata pembangunan material dapat berdampak menghambat pembangunan sistem pendidikan, karena pembangunan itu semestinya bersifat komprehensif yaitu mencakup pembangunan manusia dan lingkungannya. Paparan materi ini bermaksud memberikan gambaran yang komprehensif tenatang pembangunan manusia dengan lingkungannya. Dengan mempelajari materi ini maka kita akan memahami esensi pendidikan dan pembangunan, titik temu antara keduanya, peranan pendidikan dalam pembangunan, khususnya pembangunan sistem pendidikan nasional.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana esensi pendidikan dan pembangunan serta titik temunya.
2. Bagaimana sumbangan pendidikan pada pembangunan.
3. Bagaimana pembangunan sistem pendidikan nasional.





Bab ii
PENDIDIKAN DAN PERKEMBANGAN

A. ESENSI PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN SERTA TITIK TEMUNYA
Esensi pembangunan bertumpu dan berpangkal dari manusianya, bukan pada lingkungannya seperti perkembangan ekonomi. Seperti yang dinyatakan dalam GBHN, hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia. Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa yang menjadi tujuan akhir pembangunan adalah manusianya, yaitu dapat dipenuhinya hajat hidup, jasmaniah dan rohaniah, sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk religius, agar dengan demikian dapat meningkatkan martabatnya selaku makhluk.
Jika pembangunan bertolak dari sifat hakikat manusia, berorientasi kepada pemenuhan hajat hidup manusia sesuai dengan kodratnya sebagai manusia sesuai dengan kodratnya sebagai manusia maka dalam ruang gerak pembangunan, manusia dapat dipandang sebagai “objek” dan sekaligus sebagai “subjek” pembangunan.
Sebagai objek pembangunan manusia dipandang sebagai sasaran yang dibangun. Dalam hal ini pembangunan meliputi ikhtiar ke dalam diri manusia, berupa pembinaan pertumbuhan jasmani, dan perkembangan rohani yang meliputi kemampuan penalaran, sikap diri, sikap sosial, dan sikap terhadap lingkungannya, tekad hidup yang positif serta keterampilan kerja. Ikhtiar ini disebut pendidikan.
Manusia sebagai sasaran pembangunan (baca: pendidikan), wujudnya diubah dari keadaan yang masih bersifat “potensial” ke keadaan “aktual”. Fuad Hasan menyatakan: “Manusia adalah makhluk yang terentang antara potensi dan aktualisasi (Manusia dan Citranya, Juni 1985) ”. Diantara kedua kutub itu terentang upaya pendidikan. Dalam hubungan ini perlu dicatat bahwa pendidikan berperan mengembangkan yaitu menghidupsuburkan potensi-potensi “kebaikan” dan sebaliknya mengkerdilkan potensi “kejahatan”.
Potensi-potensi kebaikan yang perlu dikembangkan aktualisasinya seperti kemampuan berusaha, berkreasi, kesediaan menerima kenyataan, berpendirian, rasa bebas yang bertanggung jawab, kejujuran, toleransi, rendah hati, tenggang rasa, kemampuan bekerja sama, menerima, melaksanakan kewajiban sebagai keniscayaan, menghormati hak orang lain, dan seterusnya.
Manusia dipandang sebagai “subjek” pembangunan karena ia dengan segenap kemampuannya menggarap lingkungannya secara dinamis dan kreatif, baik terhadap sarana lingkungan alam maupun lingkungan sosial/spiritual. Perekayaan terhadap lingkungan ini lazim disebut pembangunan. Jadi pendidikan mengarah ke dalam diri manusia, sedang pembangunan mengarah ke luar yaitu ke lingkungan sekitar manusia.
Jika pendidikan dan pembangunan dilihat sebagai suatu garis proses, maka keduanya merupakan suatu garis yang terletak kontinu yang saling mengisi. Proses pendidikan pada suatu garis menempatkan manusia sebagai titik awal, karena pendidikan mempunyai tugas untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk pembangunan, yaitu pembangunan yang dapat memenuhi hajat hidup masyarakat luas serta mengangkat martabat manusia sebagai makhluk. Bahwa hasil pendidikan itu menunjang pembangunan, juga dapat dilihat korelasinya dengan peningkatan kondisi sosial ekonomi peserta didik yang mengalami pendidikan.
Hasil penelitian di negara maju umumnya menunjukkan adanya korelasi positif antara tingkat pendidikan yang dialami seseorang dengan tingkat kondisi sosial ekonominya. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang dialami seseorang, semakin baik kondisi sosial ekonominya.
Kiranya jelas bahwa hasil pendidikan dapat menunjang pembangunan dan sebaliknya hasil pembangunan dapat menunjang usaha pendidikan. Jelasnya, suatu masyarakat yang makmur tentu dapat lebih membiayai penyelenggaraan pendidikannya ke arah yang lebih bermutu.
Uraian di atas menunjukkan “status” pendidikan dan pembangunan masing-masing dalam esensi pembangunan serta antarkeduanya.
1. Pendidikan merupakan usaha ke dalam diri manusia sedangkan pembangunan merupakan usaha keluar dari diri manusia.
2. Pendidikan menghasilkan sumber daya tenaga yang menunjang pembangunan dan hasil pembangunan dapat menunjang pendidikan (pembinaan, penyediaan sarana, dan seterusnya).
B. SUMBANGAN PENDIDIKAN PADA PEMBANGUNAN
Sumbangan pendidikan terhadap pembangunan dapat dilihat pada beberapa segi:
1. Segi Sasaran Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar yang ditujukan kepada peserta didik agar menjadi manusia yang berperikehidupan kuat dan utuh serta bermoral tinggi. Jadi tujuan citra manusia pendidikan adalah terwujudnya citra manusia yang dapat menjadi sumber daya pembangunan yang manusiawi.
Prof. Dr. Slamet Iman Santoso menyatakan bahwa tujuan pendidikan menghasilkan manusia yang baik. Manusia yang baik dimanapun ia berada akan memperbaiki lingkungan.
2. Segi Lingkungan Pendidikan
1). Lingkungan Keluarga
Di dalam lingkungan keluarga anak dilatih berbagai kebiasaan yang baik (habit formation) tentang hal-hal yang berhubungan dengan kecekatan, kesopanan, dan moral. Disamping itu, kepada mereka ditanamkan keyakinan-keyakinan yang pentingutamanya hal-hal yang bersifat religius. Hal-hal tersebut sangat tepat dilakukan pada masa kanak-kanak sebelum perkembangan rasio mendominasi perilakunya. Kebiasaan baik dan keyakinan-keyakinan penting yang mendarah daging merupakan landasan yang sangat diperlukan untuk pembangunan.
2). Lingkungan Sekolah
Di lingkungan sekolah (pendidikan formal), peserta dibimbing untuk memperluas bekal yang telah diperoleh dari lingkungan kerja keluarganya berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Bekal dimaksud baik berupa bekal dasar, lanjutan (dari SD dan sekolah lanjutan) ataupun bekal kerja yang langsung dapat digunakan secara aplikatif (Sekolah Menengah Kejuruan dan Perguruan Tinggi). Kedua macam bekal tersebut dipersiapkan secara formal dan berguna sebagai sarana penunjang pembangunan di berbagai bidang.


3). Lingkungan Masyarakat
Di lingkungan masyarakat (pendidikan nonformal), peserta didik memperoleh bekal praktis untuk berbagai jenis pekerjaan, khususnya mereka yang tidak sempat melanjutkanproses belajarnya melalui jalur formal.
3. Segi Jenjang Pendidikan
Jenjang pendidikan jasa, pendidikan menengah (SM), perguruan tinggi (PT), memberikan bekal pad peserta didik secara berkesinambungan. Pendidikan dasar merupakan basic education yang memberikan bekal dasar bagi pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Artinya pendidikan tinggi berkualitas, jika pendidikan menengahnya berkualitas, dan pendidikan menengah berkualitas, jika pendidikan dasarnya berkualitas.
Dengan basic education pada pendidikan dasar juga diartikan bahwa pendidikan dasar memberikan bekal dasar kepada warga negara yang tidak sempat melanjutkan pendidikan untuk dapat melibatkan diri ke dalam gerak pendidikan.
Pendidikan pada tingkat menengah memberikan dua macam bekal yaitu membekali peserta didik yang ingin melanjutkan ke pendidikan tnggi (SMA) dan bekal kerja bagi peserta didik yang tidak melanjutkan sekolah (SMTA). Pendidikan tinggi (PT) memberikan bekal kerja keahlian menurut bidang tertentu.

4. Segi Pembidangan Kerja atau Sektor Kehidupan
Pembidangan kerja menurut sektor kehidupan meliputi antara lain: bidang ekonomi, hukum, sosial politik, keuangan, perhubungan dan komunikasi, pertanian, pertambangan, pertahanan, dan lain-lain. Pembangunan sektor kehidupan tersebut dapat diartikan sebagai aktivitas, pembinaan, pengembangan dan pengisian bidang-bidang kerja tersebut agar dapat memenuhi hajat hidup warga negara sebagai suatu bangsa sehingga tetap jaya dalam kancah kehidupan antara bangsa-bangsa di dunia. Pembinaan dan pengembangan bidang-bidang tersebut hanya mungkin dikerjakan jika diisi oleh orang-orang yang memiliki kemampuan seperti yang dibutuhkan. Orang-orang dimaksud hanya tersedia jika pendidikan berbuat untuk itu.
Uraian tentang sumbangan pendidikan pada pembangunan seperti dikemukakan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Pada langkah pertama, pendidikan menyiapkan manusia sebagai sumber daya pembangunan. Kemudian manusia selaku sumber daya pembangunan membangun lingkungannya
b. Pada instansi terakhir, manusialah sebagai kunci pembangunan. Kesuksesan pembangunan sangat tergantung pada manusianya.
c. Pendidik memegang peranan penting karena merekalah yang menciptakan manusia pencipta pembangunan.

C. PEMBANGUNAN SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
1. Mengapa Sistem Pendidikan Harus Dibangun
Biasa dikatakan, manusia hanya mengejar kesempurnaan agar dapat dekat dengan kesmpurnaan, tetapi tidak akan pernah menyatu dengan kesempurnaan itu sendiri.
Adalah logis jika sistem pendidikan yang merupakan sarana bagi manusia untuk mengantarkan dirinya menuju kepada kesempurnaan itu juga perlu disempurnakan.
Selanjutnya persoalan pendidikan juga dapat dilihat sebagai persoalan nasional karena pendidikan berhubungan dengan masa depan bangsa. Jika masyarakat Indonesia (menurut rencana pembangunan) pada Pelita VI berubah dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, tentunya pola pikir dan perilaku yang dilandasi oleh situasi dan kondisi agraris harus berubah ke arah situasi dan kondisi dimana Indonesia disibukkan dengan kegiatan industri.
Kriteria ”kualitas manusia” tentu berubah sesuai dengan tuntutan masyarakat yang berkembang. Misalnya soal pendidikan dasar (basic education) minimal bagi warga negara berubah datri 6 tahun menjadi 9 tahun. Penghargaan masyarakat terhadap waktu juga berubah, dan seterusnya.
Untuk dapat menyongsong suasana hidup yang diperlukan itu sistem pendidikan harus berubah. Jika tidak, maka pendidikan sebagai agent of change (agen perubahan sosial) tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Strukturnya, kurikulumnya, pengelolaannya, tenaga kependidikannya mau tidak mau harus disesuaikan dengan tuntutan baru tersebut.

2. Wujud Pembangunan Sistem Pendidikan
a. Hubungan Antar Aspek-Aspek
Aspek filosofis, keilmuan dan yuridis menjadi landasan bagi butir-butir yang lain, karena memberikan arah serta mewadahi butir-butir yang lain. Artinya, struktur pendidikan, kurikulum, dan lain-lain yang lain itu harus mengacu kepada aspek filosofis, aspek keilmuan, dan aspek yuridis. Oleh karena itu, perubahan apapun yang terjadi pada struktur pendidikan, kurikulum, dan lain-lain tersebut harus tetap berada di dalam wadah filosofis dan yuridis.
Meskipun aspek filosofis itu menjadi landasan tetapi tidak harus diartikan bahwa setiap terjadi perubahan filosofis dan yuridis harus diikuti dengan perubahan aspek-aspek yang lain itu secara total. Contohnya Undang-Undang pendidikan No. 12 Tahun 1954 diubah menjadi Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tetapi struktur pendidikan tetap saja seperti yang lalu yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Hal yang sama tetap belangsung meskipun falsafah pendidikan zaman penjajahan berubah sejak mulai kita merdeka dengan falsafah Pancasila.
b. Aspek Filosofis Keilmuan
Aspek filosofis berupa penggarapan nasional pendidikan. Rumusan tujuan nasional yang tentunya memberikan peluang bagi pengembangan hakikat manusia yang bersifat kodrati yang berarti bersifat wajar. Bagi kita pengembangan sifat kodrati itu paralel dengan jiwa pancasila. Filsafat pancasila ini menggantikan secara total falsafah pendidikan penjajah. Penjajah memfungsikan pendidikan sebagai sarana untuk menghasilkan tenaga kerja yang terampil tetapi bersifat bergantung dan loyal kepada penjajah. Iklim pendidikan seperti itu jelas berbeda dengan sistem pendidikan dari bangsa yang merdeka, yang arah tujuannya ialah mewujudkan manusia-manusia yang cakap dan terampil, bersifat dinamis, kreatif dan inovatif serta mandiri, tetapi penuh tenggang rasa.
Jika struktur pendidikan dan kurikulum di ubah dengan maksud agar lebih berguna untuk mencapai tujuan tersebut, maka perlu di topang dengan teori-teori yang handal. Pendidikan yang sehat harus merupakan titik temu antara teori dengan praktik, demikian kata J. H. Guning, ”Theorie zonder praktijk is voor genieen, praktijk zonder theorie is voor gekken en schurken”. Teori tanpa praktik hanya cocok bagi orang-orang pintar, sedangkan praktik tanpa teori hanya terdapat pada orang gila (M.J. Langeveld 1965 : 18).
M.J. Langeveld menyatakan bahwa mempelajari ilmu mendidik berarti mengubah diri sendiri. Artinya dengan mempelajari imu mendidik seseorang dapat membenahi tindakan-tindakannya sehingga terhindar dari kesalahan-keslahan mendidik.
c. Aspek Yuridis
Undang-undang Dasar 1945 sebagai landasan hukum pendidikan sifatnya relatif tetap. Hal ini dimungkinkan oleh karena UUD 1945 isinya ringkas sehingga sifatnya lugas. Beberapa pasal melandasi pendidikan baik yang sifatnya eksplisit (pasal 31 Ayat (1) dan (2); Pasal 32) maupun yang implisit (Pasal 27 Ayat (1) dan (2); Pasal 34). Pasal-pasal tersebut yang sifatnya masih sangat global dijabarkan lebih rinci ke dalam bentuk UU Pendidikan. Berdasarkan UU Pendidikan inilah sistem pedidikan disusun dan dilaksanakan.
d. Aspek Struktur
Aspek struktur pembangunan sistem pendidikan berperan pada upaya pembenahan struktur pendidikan yang mencakup jenjang dan jenis pendidikan, lama waktu belajar dari jenjang yang satu ke jenjang yang lain, sebagai akibat dari perkembangan sosialbudaya dan politik.
Dalam praktiknya, perkembangan pola struktur tidak dapat dipisahkan dari aspek filosofis. Pada zaman penjajahan Belanda misalnya, sekolah taman kanak-kanak belum dianggap sebagai suatu kebutuhan. Jenjang pendidikan formal yang terendah adalah sekolah rakyat atau sekolah desa (volk School) 3 tahun. Dalam hal ini demikian sekolah desa tidak berfungsi sebagai pendidikan dasar (basic education) yang memberikan bekal dasar kepada setiap warga negara untuk berperan serta dalam pembangunan, tetapi sekadar untuk konsumsi politik etis dan menyiapkan tenaga buruh yang sekedar dapat membaca dan menulis juga melancarkan roda pemerintahan penjajah. Sejak zaman penjajah, jenjang pendidikan formal terdiri atas jenjang pendidikan rendah, menengah, dan pendidikan tinggi, tetapi adanya segregasi pendidikan sangat dirasakan. Saat itu dikenal apa yang disebut ”Three Tract Systems” yaitu pemilihan pendidikan untuk tiga macam golongan: Untuk rakyat jelata (bawahan), golongan atas pribumi yang disejajarkan dengan belanda, dan untuk golongan bangsa Belanda, Eropah, dan Timur Asing.
Sejak zaman kemerdekaan pemilihan seperti itu sudah tidak ada lagi. Semua sistem pendidikan yang ada disediakan untuk melayani semua anggota masyarakat. Beberapa tahun kemudian sesudah kita merdeka, jenis pendidikan tingkat menengah dan pendidikan tinggi demikian pula pendidikan nonformal mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini terjadi karena beberapa penyebab. Pertama, karena aspirasi berpendidikan dari orang tua dan angkatan muda semakin meningkat, kedua, semakin berkembangnya jenis pekerjaan di masyarat, dan sejumlah di antaranya mengalami peningkatan kualitas, hingga menuntut persyaratan kerja yang lebih andal. Banyak jenis pekerjaan baru bermunculan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebagai akibatnya timbullah kebutuhan beraneka ragam tenaga kerja yang harus dipersiapkan melalui berbagai pendidikan kejuruan tingkat menengah atas dan berbagai fakultas atau program studi pada perguruan tinggi, demikian pula melalui pendidikan nonformal.
Terjadinya perubahan struktur dalam sistem pendidikan kita dapat disebut antara lain: Pendidikan guru pada zaman penjajahan belanda dikenal apa yang disebut CVO (Cursur voor Volks-Onderwijs) dengan lama studi dua tahun sesudah sekolah rakyat (SR) lima tahun, Normal School yang lama studinya 4 tahun sesudah SR lima tahun, setara dengan SGB (Sekolah Guru Bawah).
Dalam pada itu perlu dicatat bahwa pendidikan guru pada zaman Belanda hanya sampai pada tingkat kursus hoofdakte (kursus B1 setara dengan sarjana muda dan B2 setara dengan tingkat sarjana lengkap). Meskipun demikian, alumni B2 dapat dihitung dengan jari.
e. Aspek Kurikulum
Kurikulum merupakan sarana pencapaian tujuan. Jika tujuan kurikulum berubah maka kurikulum berubah pula. Perubahan dimaksud mungkin mengenai materinya, orientasi, pendekatannya ataupun metodenya. Kurikulum dalam sistem pendidikan persekolahan di negara kita telah mengalami penyempurnaan dalam perjalanannya.
Pada zaman penjajahan Belanda karena sederhananya tujuan yang ingin dicapai, maka kurikulum pada SR (Sekolah Rakyat) misalnya dikenal dengan apa yang disebut 3R’s. Pada zaman penjajahan Jepang pelajaran diwarnai iklim militeritis (upacara penghormatan hinomaru, Taiso (sekarang SKJ), latihan kemiliteran, Kingrohosi (kerja bakti), menyanyikan nyanyian perjuangan dan pelajaran bahasa serta tulisab Jepang. Sedangkan pelajara-pelajaran yang lain dinomorduakan.
Pada era orde lama materi pelajaran 7 bahan zaman orde lama dan pokok indoktrinasi (tahun 1950-1960an) menempati posisi penting dalam kurikulum, terutama kurikulum pendidikan tinggi. Dengan terjadinya tragedi nasional pada tahun 1965, maka pada era orde baru, mulai tahun 1966, materi tujuh bahan pokok ditiadakan dan materi pendidikan moral pancasila menjadi matrei pokok kurikulum pada semua jenis pendidikan.
Kurikulum pada pra universitas secara keseluruhan dibenahi sehingga lahir kurikulum 1968. tetapi kurikulum ini dianggap belum memberikan rambu-rambu yang jelas, baik orientasinya maupun pendidkan kurikulumnya. Usaha penyempurnaan selanjutnya menghasilkan kurikulum 1975 atau 1976 yang berorientasi pada hasil (product oriented) dengan metode PPSI (Prosedur Kurikulum Pengembangan Sistem Instruksional). Tetapi, karena pengalaman antara tahun 1976-1980 menunjukkan bahwa apa yang dikehendaki tidak tercapai, maka upaya penyempurnaan kurikulum selanjutnya menghasilkan kurikulum 1984. Model ini memadukan dua orientasi yaitu product oriented dengan proses oriented, yang ditunjang dengan pendekatan CBSA. Kemudian menjelang tahun 1990 dilengkapi dengan muatan lokal, yang berlatar belakang pada tuntutan sosial kultural pembangunan.
BAB III
KESIMPULAN
1. Esensi pembangunan bertumpu dan berpangkal dari manusianya, bukan pada lingkungannya seperti perkembangan ekonomi, yaitu berupa dipenuhinya hajat hidup, jasmaniah dan rohaniah, sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk religius, agar dengan demikian dapat meningkatkan martabatnya selaku makhluk.
2. Pendidikan menghasilkan sumber daya tenaga yang menunjang pembangunan dan hasil pembangunan dapat menunjang pendidikan (pembinaan, penyediaan sarana, dan seterusnya).
3. Sumbangan pendidikan pada pembangunan pada beberapa segi:
a). Segi sasaran pendidikan
b). Segi Lingkungan Pendidikan, baik pada lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat
c). Segi Jenjang Pendidikan
d). Segi Pembidangan Kerja atau Sektor Kehidupan
4. Wujud pembangunan sistem pendidikan meliputi: aspek filosofis keilmuan, aspek yuridis, aspek struktur, dan aspek kurikulum.

DAFTAR PUSTAKA

Tirtarahardja, Umar dan La Sula. 1998. Pengantar Pendidikan. Rine

Welcome to my Activity

disini aq nampilin segala macam aktivitasku dan suasana hatiku baik senang, sedih, galau, gundah, gulana dll.

Total Tayangan Halaman